Debat Malaysia dengan Indonesia

Diposkan oleh Denti Rizki
Di sejumlah situs blog di internet kembali muncul perdebatan yang memperlihatkan hubungan kurang harmonis antara Indonesia dan Malaysia.
Masalah terbaru bermula dari digunakannya lagu Rasa Sayange oleh Departemen Pariwisata Malaysia untuk mempromosikan sektor pariwisata negeri itu.
Menteri Pariwisata Malaysia Adnan Tengku Mansor berkeras bahwa Rasa Sayange merupakan lagu yang beredar di kepulauan Nusantara, yang di dalamnya juga termasuk Malaysia.
Perdebatan Indonesia-Malaysia sebenarnya yang baru. Beberapa insiden sebelumnya terjadi yang memunculkan sentimen anti Malaysia di Indonesia.
Satu hal yang kerap muncul adalah perlakukan buruk yang diterima tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia dari majikan mereka di Malaysia.
Masuknya tenaga kerja asing ilegal ke Malaysia, termasuk dari Indonesia, juga sudah lama menjadi duri dalam hubungan kedua negara bertetangga ini.
Penanganan pemerintah Malaysia yang menindak tegas pendatang haram juga sempat memunculkan kemarahan di Indonesia, terlebih ketika pengunjung dan istri diplomat Indonesia pun ikut mendapat perlakuan tidak baik karena dicurigai sebagai pendapat haram.
Budaya milik siapa?
Perdebatan yang beredar di internet mengenai bagaimana Malaysia berusaha mengakui kekayaan Indonesia sebagai miliknya - mulai dari budaya sampai ke masalah Ambalat - menjadi topik hangat di sejumlah situs di internet.
Ada juga yang mengancam agar Malaysia diserang.
Sementara sejumlah anggota DPR-RI mendesak agar pemerintah Indonesia menarik kembali seluruh TKI yang bekerja di Malaysia.
Bagaimana pendapat anda mengenai kemarahan publik Indonesia terhadap Malaysia ini?

Masalah hubungan bertetangga dengan Malaysia memang cukup rumit. Dekat tapi jauh di hati. Masalah TKI, lagu Rasa Sayange atau lagu Terang Bulan merupakan percikan kecil yang bisa jadi bom waktu mengingat sejarah hubungan bertetangga masa lalu terutama sejak terjadi konfrontasi tahun 1960an hingga saat ini. Malaysia sekarang merasa lebih super dari pada Indonesia karena pembantu rumah tangga mereka atau buruh bangunan dan lain-lain adalah orang Indonesia dan orang Malaysia adalah majikannya. Sebenarnya masalah tersebut dapat ditanggulangi apabila komunikasi di antara kedua bangsa serumpun ini terjalin dengan baik melalui kerjasama budaya, bahasa dan pariwisata.
Djohan Suryana, Jakarta
Saya sedih sebagai warganegara Indonesia yang 90% Muslim dan bertetangga dengan Malaysia saling curiga dan mencurigai kenapa ini tidak bisa diselesaikan dan duduk bersama.
Adi Suryo, Bogor
Marah? Wajar saja karena semua orang di Indonesia merasa bahwa hak mereka telah dirampok. Ketidakengganan Malaysia memang terlihat dengan banyaknya budaya dari luar yang diakui jadi warisan budaya mereka. Sensitif? Tidak. Sudah terlalu banyak hal-hal yang berkait dengan perampasan hak Indonesia. Tentang rasa iri karena Malysia lebih baik keadaan ekonominya dari Indonesia juga tidak karena orang Indonesia yang sebagian besar adalah etnis Jawa yang telah terbukti selalu bisa menerima keadaan seadanya. Kesalahan pemerintah? Ini baru benar karena karena ketidak mampuan memperbaiki perekonomianlah rakyat penyebab utamanya.
Budi Santoso, Madiun, Jawa Timur
Sebagai negara jiran seharusnya Malaysia bukan hanya selalu menyuarakan kita satu rumpun jika mereka ingin meminta bantuan pemakzulan sesuatu dari Indonesia tetapi jika mereka mau mengambil sesuatu dari Indonesia, mereka juga seharusnya malu dan tau diri. Bukan menjadi negara yang serakah, arogan. Kami sebagai warga Indonesia bisa juga berbuat sama seperti yang dilakukan oleh pemerintah Malaysia yang selalu mengambil kekayaan Indonesia baik budaya, wilayah dsb. Kami juga bisa memangil orang Malaysia dengan "Malez" tapi kami bangsa yang lebih bermartabat dari bangsa Malaysia. Jadi kami ingin melihat sebetapa besar martabat jiran itu.
Gondo Harto, Jakarta
Indonesia dan Malaysia sekarang menjadi dua negara terpisah, sebenarnya keduanya berada dalam kawasan/rantau yang sama dan budaya yang sama pula. Propinsi Riau dan semenanjung Malaka mempunyai budaya sama. Jadi wajarlah apa yang ada di Indonesia ada pula di Malaysia. Sesuatu yang disenangi oleh orang Indonesia disenangi pula oleh penduduk Malaysia. Akhir-akhir ini kemarahan sebagian warga Indonesia ini sikap emosional belaka karena keadaan di Malaysia jauh lebih baik dari Indonesia. Di lain pihak Indonesia juga mempunyai sisi baik seperti demokrasi, kebebasan pers dan sebagainya. Soal polisi Malaysia memang agak ketinggalan dibanding polisi negara lain. Jangankan rakyat, "Timbalan Perdana Mentri" pun pernah dipukul sampai pingsan. Polisi Malaysia saat ini sama dengan polisi Indonesia tahun 1960 an.
M Husni Thamrin, Bandung.

0 komentar:

Poskan Komentar

Blog ini hanya memperbolehkan berkomentar dengan santun . Blog ini memperbolehkan anda untuk mempromosikan blog anda di komentar ini . Karena saya akan berkunjung balik ke blog anda . Mohon jangan menulis spam . Terima kasih

 

Denti Rizki Kinanti Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting